RakyatPro

BUKAN SEKEDAR BERITA

HUKUM

Menguak Misteri Kematian Ririn, Pengusaha FL Wajib Bertanggung Jawab


Jakarta, Rakyat Pro Tewasnya Ririn Manik 15 tahun siswi kelas 2 SMP Negeri Satu Atap,  Desa Rianiate Pangururan,  Samosir karena tertimbun tanah ketika bekerja dalam penggalian bahan baku pengelolaan dan pembuatan batu bata di Huts Siambalo,  Desa Hutanamora,  Kecamatan Pangururan,  Kabupaten Samosir.Ada pun kejadian terjadi pada hari Rabu 24 Juli 2019 mendapat atensi serius dari Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait.Untuk kejadian sendiri ini bermula sekitar pukul 16.00 WIB ketika Ririn sehabis pulang sekolah diminta majikan ikut bekerja menggali tanah pebukitan yang dikelola seorang pengusaha batu bata bernisial FL yang berasal dari Kepulauan Nias.


Menurut Orang tua korban Antonius Manik (50) ketika dikonfirmasi wartawan di Huta Desa Parmonangan Kecamatan Pangururan Samosir mengungkap bahwa Antonius menerima kabar bahwa anaknya meninggal dunia sekitar pukul 15.30 WIB.
Setelah tertimbun galian bahan baku batu bata, putri saya langsung ditarik mereka dari timbunan bahan baku batu bata itu dalam keadaan bernafas.  Anehnya,  putri saya tidak langsung dibawa ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat untuk mrndapat pertolongan tapi dipanggilkan dukun patah,  namun nyawanya tidak tertolong  akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WIB sore.Berdasarkan UU RI Nomor :  35 Tahun 2014 tentang perubahan kedua atas UU RI  Nomor :  23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto RI Nomor : 23 Tahun 2013 tentang ketenagakerjaan dan  tewasnya Ririn dapat dikategorikan karena FL melakukan  kelalaian mengakibatkan seseorang meninggal dunia dan pemanfaatan tenaga anak untuk tujuan ekonomi atau eksploitasi ekonomi, maka pengusaha FL atas perbuatannya dapat diancam dengan kurungan pidana penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun dan denda Rp. 1 miliar, ujar Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak di kantornya di bilangan Pasar Rebo.


Berdasarkan dua ketentuan undang-undang itu,  dan demi keadilan hukum, Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai lembaga yang ditugasi untuk memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia mendorong Polres Samosir untuk tidak ragu-ragu menjerat pengusaha FL.
Kinerja penegak hukum sangat dibutuhkan oleh keluarga karena menurut penuturan orangtua korban, sebelum korban dimakamkan ditemukan luka lebam  dibelakang tubuh korban sepertinya akibat dari sabetan yang mengakibatkan luka lebam.   Oleh sebab itu,  diperlukan otopsi untuk memastikan penyebab kematian Ririn. 
Atas kejadian ini,  Komnas Perlindungan Anak juga menuntut Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Samosir untuk meningkatkan pengawasannya terhadap keberadaan industri rumahan dan juga menuntut pengawasan  Dinas Lingkungan hidup terhadap maraknya galian-galian pebukitan yang bisa berdampak kerusakan lingkungan di Kabupaten Samosir. 


Dengan lemahnya pengawasan di harapkan ada ketegasan dari aparat penegak hukum.Di samping itu harusnya ada ketegasan aparatur negara terhadap keberadaan industri rumahan termasuk keselamatan para tenaga kerja perlu menjadi perhatian juga.
Oleh karena itu di tunggu saja keberanian dari pihak terkait untuk menguak tabir dari kasus ini.( Team )

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *